Figur yang Istiqomah dan Penuh Inovasi : Drs. KH. Mas’ud Yunus

Menjadi pejabat publik dengan latar belakang Kyai memang tidak terbilang asing lagi  kita temui di negeri ini, belakangan ini seolah para kyai, ustadz atau tokoh agama sudah tak jarang kita temui beramai-ramai mengikuti perhelatan besar daerah (baca Pilkada), disisi lain seolah peran sebagai kyai telah mendatangkan keuntungan besar tersendiri bagi seseorang untuk menjadi orang nomor atas di daerah.

Namun pertanyaannya, seberapa banyak para kyai ini mampu “tetap menjadi Kyai” tatkala menjabat sebagai tokoh penting di daerah maupun di pusat. Maka berbeda sekali dengan sosok Wakil Wali Kota  Mojokerto Drs. KH. Mas’ud Yunus ketika Wali Kota incumbent  Drs. Abdul Ghani meminang dia untuk menemani sebagai Wakil Wali Kota Mojokerto kala itu (2008), Pak Kyai Mas’ud Yunus memberikan satu syarat, “Saya siap dan menerima tawaran untuk menjadi Wakil Wali Kota, asalkan saya diijinkan untuk tetap ngaji! (menjalankan amanah dakwah)”

Lahir dari latar belakang keluarga berada, bukan lantas menjadikan Mas’ud Yunus kecil tidak mandiri. Ayahnya, yang seorang Kepala Desa, telah menanamkan pribadi yang mandiri kepada ke-12 putra-putrinya. Orang tua nya pula, yang terus membangun kesadaran tentang pendidikan terhadap pribadi Mas’ud Yunus, terlebih lagi dalam ilmu agama. Kehidupan ekonomi keluarga yang cukup, praktis menjadikan keluarga besar itu berubah ketika tulang punggung keluarga, Ayah Mas’ud Yunus, meninggal dunia. Kala itu, semua saudara-saudara Mas’ud Yunus  masih dalam jenjang pendidikan, termasuk dia sendiri sebagai anak ke 7 masih baru duduk di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah (SD).

Sepeninggal Ayah, Mas’ud Yunus kecil dan saudara-saudara yang lain sempat buram melihat masa depan pendidikan mereka, karena untuk menghidupi ekonomi saja sangat berat. Namun realitas yang berat itu, berkat kesabaran dan motivasi dari sosok seorang Ibu, mampu melejitkan semangat dan motivasi kepada ke-12 putra-putri nya, sehingga kehidupan terus berjalan dan kembali menggapai mimpi-mimpi yang sempat memudar. Yunus  pun kembali semangat bersekolah, meski setiap hari ia harus berjalan kaki sejauh 5 km untuk sampai di sekolahnya.

Selepas MI, laki-laki kelahiran 1952 ini, melanjutkan ke SMP Islam yang kala itu masih bernama MMNU (Muallimin Muallimat Nahdhatul Ulama). di masa SMP inilah, ia mulai mengaktifkan dirinya dalam banyak kegitan. Terhitung dari kegiatan-kegiatan yang berbasis sekolah, semisal Pramuka, PMR, dan lain-lain, ia juga sudah melibatkan diri ke dalam organisasi kepemudaan IPNU.

Saat masa SMP inilah Mas’ud Yunus  seolah dipaksa untuk betul-betul memahami kondisi ekonomi keluarga yang kian sulit tanpa keterlibatan seorang ayah, dari kondisi inilah Alloh telah memberikan kemudahan melalui suara emasnya yang perlahan belajar untuk dipotensikan, inipun atas sarat seorang guru ngaji panutannya, pengalaman ikut di Jami’atul Qura mengantarkannya menjadi Juara MTQ tingkat Mojokerto kala itu. Sejak menjadi juara MTQ itu lah, ia mulai dikenal dan sering mendapat panggilan menjadi guru privat mengaji, yang hasil dari mengajar tersebut sudah cukup untuk membiayai sekolah Mas’ud Yunus.

Selepas dari SMP, suami dari Siti Amsiyah ini, sudah menjadi pribadi yang mandiri. Sehingga ia meyakinkan diri  untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi tanpa bantuan biaya dari ibu, kemudian ia memilih PGA (Pendidikan Guru Agama) dengan harapan bisa menambah ilmu agama dan bisa bermanfaat untuk kepentingan dunia dan akherat. Banyak kemudahan-kemudahan yang Mas’ud Yunus dapatkan, salah satunya disaat kebanyakan teman-teman yang sekolah di PGA, banyak yang nge-kos, Mas’ud Yunus tidak perlu mengeluarkan biaya khusus untuk bayar kos, karena salah seorang temannya meminta Mas’ud Yunus mengajari ngaji sekalian bisa tinggal dirumahnya tanpa dipungut biaya.

Dari kemudahan-kemudahan itu, ia terus menjalaninya dengan sangat istiqamah. Baginya, tidak ada sesuatu yang kecil, karena kalau ditekuni, sesuatu itu akan terus menjadi besar. Mas’ud Yunus   semakin memahami makna Istiqamah, terlebih lagi ketika ia nyantri kepada seorang ulama besar Mojokerto, yaitu KH. Ahyat Chalimy, selepas dari PGA. Selama di pesantren, ia pernah mendapatkan amanah menjadi Mua’dzin, amanah tersebut ia jalani dengan sungguh-sungguh. Karena keistiqamahan-nya lah, menumbuhkan kedekatan yang istimewa kepada sang Kyai  KH. Ahyat Chalimy, dari sang Kyai lah, ia kemudian mendapatkan banyak ilmu dan manfaat, baik yang disampaikan secara khusus, ataupun disampaikan oleh sang Guru di dalam mejelis.

iklan kota dengan wakil walikota

crew Iklan Kota dengan Wakil Walikota

Tiga tahun di Pondok, sebenarnya bukan lah waktu yang lama untuk ukuran santri. Namun, di waktu yang singkat itu, Mas’ud Yunus benar-benar menjalani di tiap waktunya dengan sungguh-sungguh dan istiqamah. Selama di pesantren, ia juga memanfaatkan waktu nya dengan ikut program Muhadharah (baca pidato), dan program-program lain untuk menunjang aktifitas di pesantren, melalui program inilah semakin menjadikan figur Mas’ud Yunus menjadi pemuda yang piawai dalam berpidato dan komunikasi, dari sini pulalah kemampuannya menguasai publik menjadi terasah.

Setelah tiga tahun di pesantren, berkat kedekatan nya dengan KH. Ahyat Chalimy, ia pun di jodohkan dengan seorang wanita sholihah, bernama Siti Amsiyah, dan menikah pada tanggal 29 Desember 1974. Bersama sang istri, ia kemudian melanjutkan amanah dakwah. Selama Kyai Yunus berada dalam aktifitas, sang istri berperan membantu suami dengan membuka toko pracangan.

Sebelum Mas’ud Yunus di kenal sebagai juru dakwah, sebenarnya ada kisah yang menarik yang mengawali dia sebagai pengisi tausiyah, sebelumnya dia lebih dikenal sebagai pembaca Qira’ah. Suatu ketika disaat Mas’ud Yunus di undang sebagai pembaca Qira’ah di suatu pengajian, atas kehendak Allah penceramah yang diundang tidak hadir, berhubung jamaah yang sudah berkumpul sudah banyak Mas’ud Yunus pun, yang diundang sebagai Qori’, ditunjuk seketika itu juga merangkap sebagai penceramah nya. Dari pengalaman perdana ini, kemudian ia semakin dikenal sebagai juru dakwah, tidak hanya di desa kelahirannya, tapi juga di seluruh kabupaten mojokerto kala itu.

Ketika nama Mas’ud Yunus semakin di kenal di lingkungan masyarakat mojokerto, khususnya di kalangan Nahdiyin, akhirnya mengantarkannya untuk aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP)  sejak tahun 1977, atas bekal ilmu dan figur dari seorang Mas’ud Yunus, Dia pun pernah di tawari menjadi Calon Legeslatif PPP Nomor Urut 2 kota Mojokerto untuk Pemilu 1982. Barangkali tawaran yang kebanyakan orang menyebutnya dengan tawaran yang “menjanjikan” itu, bukan lantas ia langsung menerima dan mengiyakan. Perkara besar itu kemudian Ia musyawarah kan dengan sang guru KH. Ahyat Chalimy, dari hasil musyawarah itu, sang guru meminta agar Mas’ud Yunus  tetap menjalankan aktifitasnya di dunia dakwah dan pesantren, dan menolak tawaran mengiurkan untuk menjadi calon legeslatif tersebut, Mas’ud Yunus  pun menerima permintaan sang Guru.

Penolakan Mas’ud Yunus menjadi Caleg di tahun 1982, tidak pernah membuatnya menyesal, karena ia sangat meyakini, bahwa tidak mungkin seorang Guru memutuskan sesuatu yang tidak mendatangkan kebaikan kepada muridnya, ia pun meyakini bahwa Allah akan mendatangkan hikmah dari semua itu. Dari keyakinan itu, persis di tahun berikutnya 1983, ia diminta untuk menjadi Kepala sekolah di SMP Islam tempat dimana ia pernah menimba ilmu. Ia pun mengemban amanah tersebut dengan sungguh-sungguh, tercatat telah banyak ide-ide kreatif telah ia sumbangkan untuk pengembangan sekolah, sehingga sekolah yang ia pimpin selama 17 tahun (1983-2000) , hingga saat ini dikenal menjadi salah satu sekolah Islam favorit di kabupaten/kota Mojokerto.

Berkat keseriusannya di dalam pengembangan pendidikan, KH. Mas’ud Yunus mendapatkan SK  dari Wali Kota untuk menjadi Ketua Dewan Pendidikan Kota Mojokerto, ditahun yang sama dia juga mendapat amanah untuk menjadi Pengasuh Ma’arif kota dan Kabupaten Mojokerto. Salah satu program berhasil dan sangat dirasakan oleh masyarakat mojokerto, salah satunya dijadikannya salah satu desa di kecamatan Dlanggu menjadi “Desa Berlingkungan Pendidikan”, salah satu desa yang sebelumnya tingkat pendidikannya masih tergolong minim, kini sudah mampu menjadi desa percontohan sadar pendidikan.

Kiprahnya yang luar biasa, kreatif dan penuh inovasi, baik karena perannya sebagai seorang ulama, sebagai tokoh pendidikan, dan termasuk keberhasilannya turut membesarkan RS Sakinah mojokerto telah menumbuhkan keyakinan masyarakat kota Mojokerto untuk memilih KH. Mas’ud Yunus  menjadi Wakil Wali Kota Mojokerto mendampingi Drs. Abdul Gani. Hingga saat ini, selama tiga tahun menjadi Wakil Wali Kota Mojokerto, konsentrasi dan komitmen dari KH. Mas’ud Yunus  untuk meningkatkan dan mengembangkan Pendidikan Kota Mojokerto sangat dirasakan kemanfaatannya, ada banyak program-program yang bersifat mengikat (Perwali) berhasil diciptakan, salah satunya yang baru-baru ini adalah adanya program Jam wajib Belajar, jam wajib belajar bagi pelajar dari jam 6-7 sore, juga ada program yang saat ini masih di godok untuk juga menjadi Perwali, yaitu program Wajib Mengaji, yang di khususkan kepada anak-anak agar mereka bisa mengaji, program ini nantinya akan masuk ke dalam bagian dari program di sekolah yaitu KDK (Kecakapan Dasar Keagamaan) yang menjadi syarat kelulusan.

Ada juga program yang kembali dihidupkan lagi dan diamanahi kepada KH. Mas’ud Yunus, yaitu program BAZ (badan amil zakat), program ini disamping untuk meningkatkan kesadaran ber-Zakat, juga diharapkan bisa membantu untuk pelayanan sosial di Kota Mojokerto, tercatat program ini dari tahun ke tahun sangat mengalami peningkatan yang sangat besar, bahkan untuk tahun ini (2011), KH. Mas’ud Yunus, menargetkan pengumpulan uang BAZ bias mencapai Rp 500.000.000.

KH. Mas’ud Yunus meski saat ini punya jabatan sebagai Wawali Mojokerto, sejak awal masa jabatannya, juga mewariskan apa yang pernah ia dapatkan dari orang tuanya dulu, yaitu melatih anak-anaknya untuk mandiri, dengan tidak melibatkan posisi ayahnya sebagai Wakil Wali Kota, bahkan yang sangat jarang kita temukan, ketika kedua putra nya mengajukan diri dan ikut tes CPNS, dua-dua nya tidak ada yang diterima, KH. Mas’ud Yunus benar-benar berlepas diri untuk memanfaatkan posisi nya sebagai pejabat daerah dan mencoba berhindar dari segala potensi Nepotisme.

“Kesungguhan itu akan bisa memudahkan sesuatu yang sulit, kesungguhan itu akan membuka sesuatu yang terkunci”, kalimat itu yang KH. Mas’ud Yunus sampaikan, saat Tim Redaksi Iklan Kota Mojokerto meminta wejangan yang mungkin bisa sangat bermanfaat bagi warga kota mojokerto. Menurut Sang Kyai, jangan pernah kita mengabaikan dan meremehkan pengabdian , sekecil apapun pengabdian itu, akan menjadi besar bila kita mampu menjalaninya dengan secara sungguh-sungguh dan istiqamah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: